DEMO MAHASISWA DAN UJIAN DEMOKRASI INDONESIA
“Kritik adalah energi perbaikan, bukan ancaman bagi negara.”
Oleh: Rizky Kabalmay
Ketua Bidang Demokrasi Politik
HMI Cabang Jakarta Selatan
NARATORIA.CO – Gelombang demonstrasi mahasiswa yang kembali muncul di berbagai daerah belakangan ini menandakan bahwa ruang demokrasi Indonesia masih hidup. Berbagai isu menjadi pemicu lahirnya aksi, mulai dari kenaikan harga BBM, pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG), hingga berbagai kebijakan pemerintah yang dinilai tidak berpihak pada rakyat. Fenomena ini memunculkan dua kutub pandangan yang sama-sama mengklaim berpihak pada kepentingan bangsa.
Di satu sisi, demonstrasi dipandang sebagai bentuk kontrol sosial yang sah dalam sistem demokrasi. Mahasiswa sebagai kelompok intelektual memiliki tanggung jawab moral untuk mengawasi jalannya pemerintahan dan memastikan setiap kebijakan publik berpihak pada kepentingan rakyat. Namun di sisi lain, sebagian masyarakat menilai aksi di jalanan sering kali tidak menawarkan solusi konkret dan justru berpotensi mengganggu ketertiban umum.
Perbedaan pandangan tersebut sesungguhnya merupakan konsekuensi logis dari kehidupan demokrasi. Demokrasi tidak dibangun atas dasar keseragaman pendapat, melainkan pengakuan terhadap keberagaman gagasan. Karena itu, yang perlu dijaga bukanlah keseragaman sikap, melainkan komitmen bersama untuk merawat ruang dialog yang rasional dan beradab.
Pemerintah perlu melihat demonstrasi sebagai indikator adanya keresahan publik yang harus didengar. Sebaliknya, mahasiswa perlu memastikan bahwa kritik yang disampaikan didasarkan pada data, kajian, dan kepentingan masyarakat luas, bukan sekadar mengikuti tren atau kepentingan kelompok tertentu.
Kebijakan publik yang baik lahir dari proses yang partisipatif, transparan, dan akuntabel. Tanpa itu, kebijakan berisiko kehilangan legitimasi sosial sehingga memicu resistensi yang lebih besar.
“Ketika kritik dianggap ancaman, demokrasi kehilangan salah satu fondasi terpentingnya. Namun ketika kritik tidak menawarkan solusi, demokrasi juga kehilangan arah.”
Mahasiswa tidak cukup hanya menjadi kekuatan penekan, tetapi juga harus mampu menawarkan gagasan alternatif sebagai solusi atas persoalan bangsa. Kritik tanpa tawaran solusi hanya akan menjadi penolakan tanpa arah. Sebaliknya, pemerintah yang menutup diri dari kritik akan semakin jauh dari rakyatnya dan berisiko melahirkan kebijakan yang tidak efektif.
Dalam konteks Indonesia hari ini, tantangan yang dihadapi pemerintah tidaklah ringan. Tekanan ekonomi global, ketidakpastian geopolitik, dan kebutuhan fiskal yang besar menuntut pengambilan keputusan yang sering kali tidak populer. Namun, itu bukan alasan untuk abai terhadap suara rakyat. Legitimasi kekuasaan tidak hanya bersumber dari hasil pemilu, tetapi juga dari kemampuan pemerintah menjaga kepercayaan publik melalui kebijakan yang adil dan berpihak.
Demonstrasi mahasiswa dan respons masyarakat terhadapnya merupakan bagian dari dinamika demokrasi yang sehat. Kritik adalah energi perbaikan, bukan ancaman bagi negara, selama disampaikan dengan niat tulus untuk kepentingan bersama. Sebaliknya, respons terhadap kritik juga harus dilakukan dengan sikap terbuka, bukan represif.
Jika pemerintah konsisten membuka ruang dialog dan mahasiswa tetap menjunjung tanggung jawab intelektual, maka perbedaan pendapat tidak akan menjadi sumber perpecahan, melainkan menjadi kekuatan kolektif untuk membangun Indonesia yang lebih adil, makmur, dan bermartabat.
Sejarah telah membuktikan bahwa perubahan besar di negeri ini selalu lahir dari keberanian menyuarakan kebenaran dan keteguhan memperjuangkan keadilan. Mahasiswa memiliki peran strategis untuk terus mengawal perjalanan demokrasi agar tetap berada di rel yang benar.
Pada akhirnya, tugas kita bersama bukanlah memperlebar jurang perbedaan, tetapi menjembatani kepentingan rakyat dengan kebijakan negara. Sebab demokrasi yang matang tidak diukur dari seberapa sedikit kritik yang muncul, tetapi dari seberapa dewasa sebuah bangsa mengelola perbedaan pendapat demi kepentingan bersama.
“Demokrasi bukan tentang siapa yang paling keras bersuara, tetapi siapa yang paling tulus mendengar dan memperbaiki.”


