Reaktualisasi Wawasan Nusantara sebagai Strategi Penguatan Integrasi Nasional
Naratoria.co-Indonesia, sebagai negara yang terdiri dari banyak pulau dan memiliki tingkat keragaman yang tinggi, sejak di awal perjalanan sejarahnya telah menyadari bahwa persatuan bukanlah sesuatu yang datang dengan sendirinya, melainkan harus terus diupayakan. Namun, di era globalisasi yang ditandai oleh arus informasi yang tak terbatas, liberalisasi ekonomi, dan masuknya budaya global, integrasi nasional Indonesia menghadapi berbagai tantangan yang serius. Krisis identitas nasional, penurunan solidaritas kebangsaan, serta meningkatnya polarisasi sosial dan politik menunjukkan bahwa dasar-dasar kebangsaan tidak dalam keadaan yang kuat. Wawasan Nusantara, yang seharusnya menjadi pedoman hidup berbangsa, justru mengalami penurunan dalam makna dan fungsinya.
Sejumlah fakta menunjukkan gejala melemahnya integrasi nasional. Indeks Demokrasi Indonesia beberapa tahun terakhir memperlihatkan meningkatnya polarisasi politik dan rendahnya kepercayaan publik terhadap institusi negara. Di sisi lain, data Badan Pusat Statistik menunjukkan masih tingginya ketimpangan pembangunan antarwilayah, terutama antara kawasan barat dan timur Indonesia. Ketimpangan ini bukan sekadar persoalan ekonomi, melainkan berpotensi melahirkan rasa keterasingan dan ketidakadilan struktural. Selain itu, maraknya konflik berbasis identitas di ruang digital-mulai dari ujaran kebencian hingga disinformasi-menjadi bukti bahwa persatuan nasional menghadapi ancaman yang bersifat laten namun sistemik.
Dalam hal ini, pemulihan Wawasan Nusantara menjadi perhatian utama sebagai cara untuk memperkuat persatuan negara. Wawasan Nusantara kini bukan hanya dianggap sebagai ide geopolitik atau norma, tetapi harus dipahami sebagai kesadaran bersama mengenai kesatuan daerah, bangsa, dan nasib. Pembahasan ini menunjukkan bahwa persatuan negara hanya dapat tercapai jika Wawasan Nusantara diterapkan dengan nyata dalam kebijakan pembangunan, pendidikan, serta cara hidup berbangsa dan bernegara.
Penulis percaya bahwa kegagalan utama yang dialami negara selama ini disebabkan oleh cara pandang simbolis terhadap Wawasan Nusantara. Konsep ini sering kali hanya dipandang sebagai slogan persatuan tanpa adanya keadilan sosial yang nyata. Sebagaimana diungkapkan oleh Benedict Anderson, suatu bangsa hanya akan bertahan selagi imajinasi bersama tentang “kita” tetap ada. Apabila sebagian warga merasa terasing dan tidak terwakili dalam cerita nasional, maka persatuan hanya akan menjadi angan-angan. Pemulihan Wawasan Nusantara harus bersifat maju dan relevan, dengan memprioritaskan keadilan, pemerataan pembangunan, dan penghormatan terhadap keberagaman sebagai hal utama. Tanpa hal tersebut, Wawasan Nusantara hanya akan menjadi pernyataan kosong di tengah kenyataan yang tidak seimbang.
Pemulihan Wawasan Nusantara memerlukan partisipasi semua unsur bangsa. Negara harus
menjadikannya sebagai dasar dalam kebijakan, bukan hanya sebagai materi dalam sistem pendidikan formal. Lembaga pendidikan perlu mengajar Wawasan Nusantara dengan cara yang kritis dan reflektif, bukan hanya memaksakan pandangan. Di sisi lain, generasi muda harus berperan sebagai agen integrasi dengan membangun solidaritas antara berbagai identitas dan daerah. Apabila Wawasan Nusantara telah hidup kembali sebagai kesadaran bersama, maka persatuan nasional bukan hanya impian, tetapi kenyataan yang terus diperjuangkan


