MEMBANGUN KOMUNIKASI DAN NEGOSIASI DI BIDANG ENTERTAIN
I. TRANSFORMASI KOMUNIKASI DAN NEGOSIASI DI BIDANG ENTERTAIN
Bidang entertain mengalami transformasi besar dalam hal komunikasi dan negosiasi seiring perkembangan teknologi digital. Pada masa lalu, komunikasi lebih bersifat langsung dan terbatas secara geografis, sedangkan negosiasi dilakukan secara tatap muka dengan proses yang relatif lambat. Kini, platform digital seperti media sosial, video conference, dan email memungkinkan interaksi yang cepat, efisien, dan tanpa batas ruang. Hal ini memengaruhi cara pelaku industri hiburan melakukan negosiasi kontrak, pengelolaan hak cipta, hingga promosi, sehingga memerlukan keterampilan komunikasi yang adaptif dan strategis (Putra, 2021).
Sejarah mencatat transformasi digital telah mengubah pola komunikasi dan negosiasi di industri hiburan. Banyak proses kini berlangsung secara daring melalui email, aplikasi pesan, atau platform konferensi virtual. Meskipun digitalisasi memberikan kemudahan dan efisiensi, ia juga membawa tantangan baru, terutama dalam menjaga konteks emosional dan interpretasi pesan. Komunikasi digital rentan terhadap salah paham akibat keterbatasan ekspresi nonverbal.
II. PERBANDINGAN TRANFORMASI KOMUNIKASI DAN NEGOSIASI DI BIDANG ENTERTAIN DARI MASA KE MASA
Penjelasan Singkat Perkembangan Komunikasi dan Negosiasi di Bidang Entertainment
Era Pra Modern
Pada era ini, komunikasi di bidang hiburan berlangsung secara langsung dan personal, seperti pertunjukan teater tradisional dan musik rakyat. Menurut McQuail (2010), komunikasi bersifat interpersonal dan sangat dipengaruhi oleh konteks sosial dan budaya lokal. Negosiasi berlangsung secara informal, mengandalkan hubungan sosial dan tradisi, yang selaras dengan konsep negosiasi berbasis hubungan (relationship-based negotiation) dari Fisher et al. (2011).
Modern Awal
Kemunculan media cetak dan radio mengubah jangkauan komunikasi hiburan. Shannon dan Weaver (1949) menjelaskan bahwa pesan mulai bisa dikodekan dan dikirim melalui media yang lebih terstruktur, seperti radio dan surat kabar, sehingga penyebaran hiburan semakin luas. Dalam hal negosiasi, Fisher et al. (2011) menekankan pentingnya kesepakatan formal, yang mulai diaplikasikan dalam kontrak antara artis dan media penyiar.
Perkembangan media elektronik seperti televisi dan bioskop membawa komunikasi hiburan ke tingkat massal. Daft dan Lengel (1986) melalui teori Media Richness menunjukkan bahwa televisi dan bioskop memiliki tingkat “kekayaan media” yang tinggi untuk menyampaikan pesan hiburan secara efektif. Negosiasi di era ini menjadi kompleks dan formal, melibatkan hak cipta dan kontrak yang diatur oleh agen dan manajer, sesuai dengan teori negosiasi yang menekankan aspek strategi dan posisi (Lewicki et al., 2015).
Era Digital
Internet dan media sosial merevolusi komunikasi hiburan menjadi real-time dan interaktif, memungkinkan interaksi langsung antara artis dan penggemar. Menurut Fisher et al. (2011), negosiasi digital kini mengedepankan kolaborasi lintas budaya dan penggunaan data untuk strategi negosiasi yang lebih adaptif dan efisien. Media digital juga mendukung negosiasi lisensi dan endorsement yang bersifat global.
Era AI & Canggih
Dengan munculnya AI, big data, dan teknologi seperti virtual reality, komunikasi hiburan menjadi semakin personal dan otomatis. Lewicki et al. (2015) menjelaskan bahwa negosiasi masa depan akan mengintegrasikan analisis data dan algoritma untuk mengoptimalkan hasil dan mempercepat proses negosiasi. Teknologi ini memungkinkan negosiasi royalti, lisensi, dan kolaborasi konten yang dilakukan secara otomatis dan adaptif dalam lingkungan digital.
III. KESIMPULAN
Perkembangan komunikasi dan negosiasi dari masa ke masa menunjukkan adanya transformasi signifikan yang dipengaruhi oleh kemajuan teknologi dan perubahan sosial. Pada era pra modern hingga modern awal, komunikasi masih terbatas secara fisik dan lebih banyak bersifat lisan atau tertulis dengan jangkauan terbatas, sementara negosiasi dilakukan secara informal dan berbasis tradisi. Namun, dengan hadirnya teknologi cetak dan media elektronik pada era industri, komunikasi menjadi lebih masif dan terstruktur, sehingga negosiasi pun berkembang menjadi lebih formal dan strategis, terutama dalam konteks bisnis dan organisasi.
Memasuki era digital dan kecerdasan buatan, komunikasi menjadi semakin cepat, global, dan multi-platform, membuka peluang negosiasi lintas budaya dan berbasis data. Teknologi AI yang kini mulai digunakan dalam proses negosiasi memungkinkan analisis data besar dan simulasi skenario yang meningkatkan akurasi serta efisiensi pengambilan keputusan. Evolusi teknologi mengubah cara komunikasi dan negosiasi dilakukan, namun prinsip dasar seperti kejujuran, kejelasan, dan empati tetap menjadi fondasi utama. Memahami objek perbandingan dalam industri ini membantu menentukan strategi komunikasi yang tepat, sehingga dapat mengatasi berbagai tantangan dan memperkuat kolaborasi di sektor hiburan.
Penulis:
1. Dr. Hj. Surya Bintarti, S.E., M.M.
2. Junaedi Haryono
Mahasiswa Manajemen Fakultas Ekonomi & Bisnis Universitas Pelita Bangsa
Referensi
[1] Putra, R. (2021). Transformasi komunikasi digital dalam industri hiburan. Jakarta: Media Kreatif.
[2] R. L. Daft, Organizational Theory and Design, 11th ed. Boston, MA: Cengage Learning, 2012.
[3] R. Fisher, W. Ury, and B. Patton, Getting to Yes: Negotiating Agreement Without Giving In, 3rd ed. New York, NY: Penguin Books, 2011.
[3] R. J. Lewicki, B. Barry, and D. M. Saunders, Negotiation, 7th ed. New York, NY: McGraw-Hill Education, 2015.
[4] D. McQuail, McQuail’s Mass Communication Theory, 6th ed. London, UK: Sage Publications, 2010.
[5] C. E. Shannon and W. Weaver, The Mathematical Theory of Communication. Urbana, IL: University of Illinois Press, 1949.
[6] R. L. Daft and R. H. Lengel, “Organizational information requirements, media richness and structural design,” Management Science, vol. 32, no. 5, pp. 554–571, May 1986.